Sejumlah kedai kopi di Denpasar dan Ubud mulai mengganti biji impor dengan kopi arabika Kintamani. Perubahan itu didorong perbaikan penanganan pascapanen di tingkat petani dan skema harga yang lebih transparan.
Rincian dan Dampak
Kelompok tani di beberapa desa kini memiliki tempat penjemuran dan alat pengukur kadar air sendiri.
Harga di tingkat petani disepakati di awal musim, memberi kepastian yang sebelumnya tidak ada.
Tantangan yang tersisa adalah konsistensi mutu antarpanen dan kapasitas penyimpanan.
Dulu kami jual asal laku. Sekarang pembeli datang menanyakan ketinggian kebun dan cara prosesnya.
— Ketua kelompok tani kopi di Kintamani
Langkah Selanjutnya
Sejumlah kedai menyiapkan program kunjungan kebun bagi pelanggan tetap.
Redaksi The Bali Desk akan terus memantau perkembangan isu ini dan memperbarui laporan begitu ada informasi resmi terbaru dari pihak terkait.