Ia sempat bekerja di sebuah hotel di kawasan selatan, dengan penghasilan tetap dan jam kerja panjang. Lima tahun kemudian ia memilih pulang ke Kintamani, membangun kelompok pemandu bersama pemuda desa yang mengelola jalur trekking sendiri.

Rincian dan Dampak

Kelompoknya kini beranggotakan 24 pemandu dengan pembagian pendapatan yang disepakati terbuka.

Tantangan terbesar bukan jumlah tamu, melainkan sertifikasi dan kemampuan bahasa asing.

Ia menolak menaikkan kuota harian meski permintaan bertambah, karena jalur dinilai sudah mendekati batas.

Kalau semua yang muda pergi ke selatan, yang menjaga kampung tinggal cerita.
— Koordinator pemandu di Kintamani

Langkah Selanjutnya

Ia sedang menyiapkan pelatihan bahasa untuk anggota termuda kelompoknya.

Redaksi The Bali Desk akan terus memantau perkembangan isu ini dan memperbarui laporan begitu ada informasi resmi terbaru dari pihak terkait.