Subak kerap dibicarakan sebagai warisan budaya. Padahal, sebelum menjadi warisan, subak adalah sistem pembagian air yang bekerja karena ada aturan, kepercayaan, dan orang yang menegakkannya. Ketika pasokan air berkurang, yang lebih dulu runtuh bukan upacaranya, melainkan keadilan pembagiannya.
Rincian dan Dampak
Pengambilan air tanah di kawasan hilir yang tidak terkendali memperkecil debit yang sampai ke sawah, terutama pada musim kering.
Banyak pekaseh kini mengatur jadwal air untuk lahan yang terus menyusut, sementara pendapatan bertani kalah jauh dibanding menyewakan tanah.
Perlindungan yang efektif berarti mengatur pengambilan air, memberi insentif bagi petani penggarap, dan menegakkan zona lahan pangan — bukan hanya memasang papan nama warisan dunia.
Kalau air tidak sampai, semua yang tersisa dari subak hanya pemandangan.
— Pekaseh di kawasan Tabanan
Langkah Selanjutnya
Tanpa kebijakan air yang tegas, sawah yang kita foto hari ini berpotensi menjadi arsip dalam satu dekade.
Redaksi The Bali Desk akan terus memantau perkembangan isu ini dan memperbarui laporan begitu ada informasi resmi terbaru dari pihak terkait.